Soal Ivermectin, Ini Temuan Terbaru dari Ilmuwan Israel
Oleh Fia Abdi Putra pada Minggu, 08 Agustus 2021

Polemik dan kontroversi penggunaan Ivermectin dalam penanganan Covid-19 tidak membuat keampuhan obat parasit tersebut mengobati penderita Covid-19 terganggu. Alih-alih tenggelam, berbagai testimoni dan penelitian terbaru justru mengonfirmasi keampuhannya sebagai obat yang murah dan efektif.

Penelitian terbaru dari Sheba Medical Center di Tel Hashomer, Israel, menegaskan bahwa Ivermectin, obat yang digunakan untuk melawan parasit di negara-negara dunia ketiga, dapat membantu mengurangi lamanya infeksi bagi orang yang tertular virus corona.

Bahkan menurut Prof. Eli Schwartz, pendiri Center for Travel Medicine and Tropical Disease di Sheba, Ivermectin bisa menekan biaya pengobatan penderita Covid-19 hingga sekitar 1 dolar AS sehari. Dari penelitian Schwartz juga terbukti 72 persen sukarelawan yang diobati dengan ivermectin dinyatakan negatif virus pada hari keenam. Sebaliknya, hanya 50 persen dari mereka yang menerima plasebo dinyatakan negatif.

Sebagai tambahan, selain Sheba Medical Center, penelitian yang diterbitkan awal tahun ini di American Journal of Therapeutics menyoroti bahwa “tinjauan oleh Front Line Covid-19 Critical Care Alliance, merangkum temuan dari 27 penelitian tentang efek ivermectin untuk pencegahan dan pengobatan infeksi Covid-19, menyimpulkan bahwa ivermectin ‘menunjukkan sinyal kuat kemanjuran terapeutik’ terhadap Covid-19.

“Tinjauan lain baru-baru ini menemukan bahwa ivermectin mengurangi kematian hingga 75 persen,” kata laporan itu.

Terkait hal tersebut, menurut Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMY), Mujiono Koesnandar, publik sebenarnya mempertanyakan niat di balik kerasnya tudingan Indonesia Corruption Watch (ICW) terhadap Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko beberapa waktu lalu. ICWsaat itu menuding bahwa ada motivasi rente ekonomi dan keuntungan di balik kegigihan Moeldoko memperkenalkan dan membagi-bagikan tablet Ivermectin ke pusat-pusat lonjakan kasus penularan Covid-19 di Tanah Air.

“Ada hal penting yang menjadi pertanyaan publik terhadap gigihnya ICW merongrong aktivitas social KSP Moeldoko, apa niat di balik itu,” kata Mujiono dalam siaran pers yang diterima, Minggu (8/8/2021). Pasalnya, tudingan ICW itu bahkan sama sekali tidak menunjukkan empati terhadap korban yang berjatuhan akibat lonjakan penularan Covid-19.

“Di sisi lain, justru jatuhnya banyak korban itulah yang menjadi alasan KSP Moeldoko mensosialisasikan, bahkan mengirim langsung tablet-tablet Ivermectin secara gratis ke berbagai pusat lonjakan. Itu jauh lebih baik dibanding diam berpangku tangan melihat saudara-saudara se-Tanah Air berjatuhan menjadi korban Covid,” kata Mujiono.

Karena itu, menurut Mujiono, wajar bila masyarakat mencurigai ada ada agenda terselubung ICW untuk memfitnah KSP Moeldoko.

“Ada kesan kuat, alih-alih KSP Moeldoko yang mencari rente ekonomi, justru ICW yang mungkin menjadi bagian dari konspirasi global untuk menolak Ivermectin yang murah-meriah tapi ampuh atasi Covid,” kata dia. Bagi Mujiono, itu artinya sama seperti pepatah ‘maling teriak maling’. “Artinya, tuduhan bahwa para pejabat mensosialisasikan Ivermectin untuk menjadi obat murah dan massal dalam perang melawan pandemi itu didasari niat mengambil rente adalah tuduhan keji, dan bila dihubungkan dengan banyaknya korban, jelas sangat tidak berperikemanusiaan,” tegasnya.

Namun menurut Mujiono, pihaknya tidak heran dengan sikap beberapa lembaga swadaya masyarakat yang seperti itu. Dalam sejarah Indonesia ada bukti kuat bahwa agenda LSM tidak bisa dilepaskan dari sikap politik, dan bahkan lebih jauh ideologi pihak donor yang umumnya berasal dari luar negeri.

“Saya membaca sejarah, pada pertengahan era 1990-an, manakala ada pengusiran dan kekerasan massal kepada para pendatang, khususnya Muslim dari Timor Leste (Timor Timur saat itu), tak ada satu pun LSM, terutama yang mendapatkan donasi negara-negara Barat berani bersuara. Padahal, hal sekecil apa pun yang terjadi di Timor Timur saat itu, pasti mereka berteriak,” kata Mujiono. Dia mengingatkan, saat itu di Indonesia marak keyakinan bahwa pada hal-hal yang merugikan pihak pendonornya, LSM selalu kena ‘sariawan’.

Di sisi lain, Mujiono percaya, keberadaan LSM sebenarnya bisa menguatkan civil society (masyarakat madani), bila mereka melakukannya dengan jujur dan berdasarkan kejernihan nurani. “Sayangnya, banyak di antaranya yang rela menjadikan diri jadi apa yang dikatakan peribahasa lama, ‘tong kosong yang nyaring bunyinya’. Artinya, mereka bersedia berteriak hanya kalau sesuai kepentingan diri, kelompok atau pendonornya saja. Itu yang kami sayangkan,” kata dia.

Sumber : beritasatu.com