Mengenal Lebih Varian R.1, Mutasi Baru Wabah Covid-19
Oleh Fia Abdi Putra pada Jumat, 24 September 2021

Munculnya varian Delta telah menyingkirkan tiga varian Covid-19 lainnya dari perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tiga varian Covid-19 yang dimaksud adalah Alpha, Beta, dan Gama yang hanya mewakili sebagian kecil sampel yang diurutkan.

Angka kasus Covid-19 di sejumlah negara yang melonjak secara signifikan bahkan disebut-sebut disebabkan karena varian delta yang dianggap menjadi varian lebih kuat dan lebih menular dari varian lain.

Namun, kini semua mata tertuju pada varian R.1 yang baru-baru ini ditemukan di panti jompo Kentucky, Amerika Serikat (AS). Varian ini bahkan sudah menyebar di 47 negara bagian Paman Sam.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), ada sekitar 26 pasien dan 20 perawat yang positif terinfeksi Covid-19, di mana 28 spesimen yang diteliti terjangkit varian R.1.

"Risiko penularan varian R.1 terhadap pasien yang tidak divaksin tiga kali lebih tinggi dari mereka yang telah divaksinasi," tulis laporan CDC, mengutip Prevention.

Bahkan, laporan CDC menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 masih kurang efektif melawan varian R.1.

Varian R.1 adalah salah satu varian yang mengandung sejumlah mutasi, di antaranya D614G yang terbukti meningkatkan kemampuan menular. Artinya, diduga lebih menular dibanding varian lain, meski masih butuh penelitian untuk memastikannya.

Saat ini, WHO belum memasukkan varian R.1 ke dalam kategori variant of concern (VOC) maupun varian of interest (VOI). Varian R.1 saat ini ada di kategori 'Variants Under Monitoring', yang semula disebut 'Alerts for Further Monitoring'.

Dalam daftar pantauan varian COVID-19, WHO menyebut varian R.1 terdeteksi pertama kali pada Januari 2021 di 'multiple countries'. Namun beberapa sumber menyebut, varian ini pertama kali ditemukan di Jepang, sehingga disebut 'varian asal Jepang'.

Lantas, perlukah kita khawatir dengan munculnya varian ini?

William Schaffner, Dokter Spesialis Penyakit Menular sekaligus Profesor Vanderbilt University School of Medicine menilai varian ini memang tidak perlu mendapatkan perhatian lebih karena varian Delta saat ini yang perlu mendapatkan penanganan lebih serius.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa penting bagi pejabat setempat untuk mengetahui awal mula munculnya varian R.1 untuk mengetahui secara lebih pasti sebaran varian tersebut.

Sementara itu, Pakar Penyakit Menular Amesh A. Adalja, seorang sarjana di Pusat Kesehatan John Hopkins sepakat bahwa varian R.1 tidak akan seganas varian Delta.

"Namun, penting untuk mempelajari varian ini, responnya terhadap vaksin dan antibodi monoklonal dan penyebarannya," jelasnya.

(Sumber : cnbcindonesia.com)